IMG-LOGO
Sorot Politik

Delapan Kapal Lewat, Selat Hormuz Makin Sepi dan Dunia Mulai Khawatir

by Admin - 11 Aug 2026 0 Views
IMG

Sorottajam.com - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai menimbulkan kekhawatiran baru terhadap perdagangan energi global. Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, kini menghadapi gangguan serius dengan lalu lintas kapal yang turun drastis.

Hingga Jumat, hanya delapan kapal yang tercatat melintasi Selat Hormuz. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena jalur ini sebelumnya menjadi salah satu pintu utama distribusi energi dunia.

Selat Hormuz selama ini menjadi jalur bagi sekitar seperempat perdagangan minyak melalui laut dunia serta sekitar seperlima pasokan gas alam cair (LNG) global. Gangguan yang berkepanjangan berpotensi meningkatkan tekanan terhadap pasokan dan harga energi internasional.

Kondisi tersebut terjadi ketika Iran dan Oman masih melakukan pembicaraan mengenai kesepakatan rute transit di Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan negosiasi telah memasuki tahap akhir.

Namun, kesepakatan tersebut belum menjamin pembukaan kembali jalur pelayaran secara penuh. Teheran masih menuntut kompensasi dari AS atas pelanggaran yang dituduhkan kepada Washington.

Araghchi juga menegaskan bahwa Iran belum bersedia kembali ke meja perundingan dengan AS apabila persoalan tersebut belum diselesaikan.

Ketegangan semakin meningkat setelah Iran mempertimbangkan rancangan aturan yang melarang kapal AS dan Israel melintasi Selat Hormuz. Iran juga disebut dapat mengenakan kompensasi hingga 20% dari nilai muatan terhadap pihak yang dianggap melanggar ketentuan.

Sementara itu, aktivitas militer AS di kawasan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Komando Pusat AS menyatakan pasukannya telah mengalihkan 55 kapal komersial dari pelabuhan-pelabuhan Iran hingga Minggu. Jumlah itu meningkat dari 35 kapal yang dialihkan pada 2 Agustus.

Dua kapal dilaporkan telah dilumpuhkan, sedangkan dua kapal lainnya dinaiki untuk memastikan kepatuhan terhadap ketentuan yang diberlakukan.

Perkembangan tersebut membuat risiko terhadap arus perdagangan energi semakin besar. Apabila aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terus menurun, gangguan distribusi minyak dan LNG dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap pasar global.

Pasar minyak pun mulai merespons perkembangan tersebut. Harga minyak mentah Brent naik 1,1% menjadi US$84,45 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 1% menjadi US$78,98 per barel.

Analis komoditas ING Bank Warren Patterson memperingatkan bahwa ruang kompromi antara Washington dan Teheran semakin sempit.

Menurutnya, situasi tersebut berpotensi kembali memburuk dan memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak dunia.

Di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan, Presiden AS Donald Trump justru memberikan sinyal bahwa Washington dapat lebih mengandalkan tekanan ekonomi terhadap Iran ketimbang serangan militer lanjutan.

Dalam wawancara dengan Axios, Trump mengatakan AS mengambil pendekatan yang tidak agresif dengan membiarkan tekanan ekonomi semakin dirasakan Iran. Ia juga menyoroti tingginya inflasi serta kondisi keuangan negara tersebut.

Trump kemudian mengunggah grafik di Truth Social yang menunjukkan pelemahan tajam nilai tukar rial Iran sejak 2025. Dalam unggahan tersebut, Trump mengeklaim kondisi keuangan Iran semakin terpuruk.

Namun, bagi pasar global, persoalan yang lebih mendesak adalah ketidakpastian mengenai masa depan Selat Hormuz.

Semakin sedikit kapal yang dapat melintas, semakin besar pula kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi dunia. Jika situasi ini berlangsung lebih lama, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh AS dan Iran, tetapi juga negara-negara yang bergantung pada minyak dan LNG yang melewati jalur strategis tersebut.

Dengan demikian, Selat Hormuz kini bukan sekadar titik ketegangan antara dua negara, melainkan telah menjadi salah satu titik risiko terbesar bagi stabilitas pasar energi global.

Artikel Terkait

View all

Advertisement

Tranding

Stay Connected