Sorottajam.com - Petani, sudah masyhur di telinga masyarakat Indonesia bahwa hal itu adalah sebuah profesi dan para pekerja Tani.
Namun tahukah kamu, bahwa Petani merupakan singkatan dari "Penjaga atau Penyangga Tanah Air Indonesia". Akronim tersebut dicetuskan oleh Presiden Soekarno.
Soekarno membuat akronim tersebut lantaran pentingnya peran petani dalam menjaga kedaulatan dan ketahanan pangan bangsa.
Soekarno, sebagai proklamator dan presiden pertama Indonesia, sangat menghargai peran petani dalam pembangunan negara.
Pada masa awal kemerdekaan, Soekarno melihat sektor pertanian sebagai salah satu pilar utama untuk membangun ekonomi Indonesia yang mandiri dan kuat.
Petani dianggap sebagai tulang punggung bangsa yang tidak hanya menyediakan pangan bagi masyarakat, tetapi juga menjaga keberlanjutan dan keutuhan tanah air dari berbagai ancaman, baik internal maupun eksternal.
Dengan memberikan singkatan tersebut, Soekarno ingin menekankan bahwa pekerjaan petani tidak hanya sebatas aktivitas ekonomi, tetapi juga memiliki nilai nasionalisme yang tinggi.
Ini adalah bagian dari upaya Soekarno untuk memupuk semangat patriotisme dan menghargai semua elemen masyarakat yang berkontribusi terhadap kemajuan negara.
Namun begitu, pemncetusan akronim Petani oleh Sorkarno tersebut menuai pro kontra. Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro (Undip), Singgih Tri Suistiyono, mengatakan, tak tepat untuk mengatakan bahwa petani adalah kata yang diciptakan Soekarno dari akronim penyangga tatanan negara.
Kata Singgih, apa yang dikatakan oleh Soekarno di awal-awal 50-an mengenai kepanjangan petani tersebut adalah sebuah retorika untuk mengambil hati para petani.
Seperti yang sudah jamak diketahui, Soekaro memang sangat suka membuat akronim-akronim seperti Berdikari dari berdiri di ata kaki sendiri,Trikora dari Tri Komando Rakyat, Jasmerah dari jangan sampai melupakan sejarah, dan sebagainya.
"Begitupun dengan petani sebagai Penyangga Tatanan Negara Indonesia, hal itu menurutnya sekadar mencocok-cocokkan saja. Saya kira yang disampaikan Bung Karno itu akronim yang cara bahasa Jawanya itu, digathukke mathuk, artinya dipasang-pasangkan,” kata Singgih, mengutip Kumparan.com, Rabu (17/7/2024).
Sampai sekarang pun, banyak orang yang masih suka membuat akronim-akronim semacam itu, baik untuk memuji, menarik perhatian, atau bahkan untu saling ejek. “Jadi karena kreativitas Bung Karno zaman dulu ya, kan beliau memang dikenal suka membuat akronim-akronim semacam itu,” ungkapnya.
Mengutip dari kumparan.com : Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro (Undip), Singgih Tri Suistiyono, mengatakan tak tepat untuk mengatakan bahwa petani adalah kata yang diciptakan Soekarno dari akronim penyangga tatanan negara.
Apa yang dikatakan oleh Soekarno di awal-awal 50-an mengenai kepanjangan petani tersebut adalah sebuah retorika untuk mengambil hati para petani.
Seperti yang sudah jamak diketahui, Soekaro memang sangat suka membuat akronim-akronim seperti Berdikari dari berdiri di ata kaki sendiri,Trikora dari Tri Komando Rakyat, Jasmerah dari jangan sampai melupakan sejarah, dan sebagainya.
Begitupun dengan petani sebagai Penyangga Tatanan Negara Indonesia, hal itu menurutnya sekadar mencocok-cocokkan saja. “Saya kira yang disampaikan Bung Karno itu akronim yang cara bahasa Jawanya itu, digathukke mathuk, artinya dipasang-pasangkan,” kata Singgih, mengutip Kumparan.com, Rabu (17/7/2024).
Sampai sekarang pun, banyak orang yang masih suka membuat akronim-akronim semacam itu, baik untuk memuji, menarik perhatian, atau bahkan untu saling ejek. “Jadi karena kreativitas Bung Karno zaman dulu ya, kan beliau memang dikenal suka membuat akronim-akronim semacam itu,” lanjutnya
Kepanjangan dari petani itu diberikan Soekarno pada tahun 1952. Meski begitu, Soekarno tak bisa disebut sebagai pencipta kata petani karena sebenarnya kata petani sudah lama dan dipakai jauh sebelum Soekarno memberikan arti dari kata petani. (Ihy)