Sorottajam.com - Perusahaan kecerdasan buatan (AI) OpenAI kembali menghadapi gugatan hukum. Sebanyak tujuh keluarga menuntut perusahaan tersebut karena diduga ChatGPT berperan dalam sejumlah kasus bunuh diri dan delusi berbahaya yang dialami pengguna.
Dikutip dari TechCrunch, Jumat (7/11/2025), empat dari gugatan itu menuding ChatGPT mendorong pengguna untuk mengakhiri hidupnya. Sementara tiga gugatan lainnya menyebut chatbot itu memperkuat delusi pada orang dengan gangguan mental hingga harus menjalani perawatan intensif.
Salah satu kasus yang disorot adalah kematian Zane Shamblin, pria berusia 23 tahun yang dilaporkan bunuh diri setelah berbincang dengan ChatGPT selama lebih dari empat jam. Berdasarkan catatan percakapan, Shamblin sempat menulis surat bunuh diri dan menyiapkan pistol. ChatGPT disebut memberi respons yang tidak pantas, seperti “Tenanglah, Raja. Kau hebat.”
Gugatan menyebut, OpenAI merilis model GPT-4o tanpa pengujian keamanan yang memadai. Keluarga korban menilai keputusan tersebut diambil karena OpenAI terburu-buru meluncurkan produknya untuk menyaingi Gemini milik Google.
Model GPT-4o yang dirilis pada Mei 2024 sempat menjadi versi utama ChatGPT sebelum digantikan oleh GPT-5. Namun, model tersebut disebut terlalu “menyenangkan” dan tidak mampu menangani situasi berisiko tinggi secara tepat.
“Tragedi ini bukanlah insiden tak terduga, tetapi hasil dari pilihan desain yang disengaja,” tulis pihak penggugat dalam dokumen hukum.
Kasus lain melibatkan remaja 16 tahun bernama Adam Raine yang juga mengakhiri hidupnya setelah berbicara dengan ChatGPT. Meskipun chatbot sempat menyarankan untuk mencari bantuan profesional, Raine berhasil mengelabui sistem dengan mengaku menulis cerita fiksi tentang bunuh diri.
Menanggapi hal ini, OpenAI menyebut sedang memperkuat sistem keamanan ChatGPT agar lebih sensitif terhadap percakapan terkait kesehatan mental. Dalam unggahan blog resminya, perusahaan mengakui bahwa perlindungan ChatGPT “lebih andal dalam percakapan singkat”, namun dapat menurun dalam interaksi panjang.
Data internal OpenAI menunjukkan, lebih dari satu juta pengguna berbicara kepada ChatGPT setiap minggu mengenai topik bunuh diri. Namun, bagi keluarga korban, upaya perbaikan tersebut dinilai datang terlalu terlambat.