Dari total korban, 40 orang tewas akibat serangan langsung pada Rabu. Sejumlah serangan menyasar kawasan permukiman di kamp pengungsi Maghazi, lingkungan Zeitoun, dan Gaza City, menewaskan sedikitnya 21 orang.
Serangan lainnya di kamp pengungsian di Khan Younis, wilayah selatan Gaza, merenggut lima nyawa.
Sementara itu, 14 warga sipil dilaporkan tewas saat mengantre bantuan makanan dari PBB di sepanjang Jalan Salahuddin, kawasan tengah Gaza.
Militer Israel (IDF) mengatakan sedang menyelidiki insiden penembakan terhadap warga sipil yang sedang menunggu bantuan. Dalam pernyataannya, IDF mengklaim bahwa operasi militer dilakukan untuk menghancurkan kekuatan tempur Hamas dan bahwa mereka telah mengambil langkah-langkah untuk meminimalkan korban sipil.
Namun kenyataannya, kekerasan terhadap warga sipil terus terjadi. Sejak bantuan mulai disalurkan kembali pada akhir Mei lalu, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sebanyak 397 warga tewas dan lebih dari 3.000 lainnya luka-luka saat mencoba mendapatkan bantuan pangan.
“Orang-orang dibunuh siang dan malam, tapi sekarang semua mata tertuju pada perang dengan Iran. Tak banyak lagi yang peduli pada Gaza,” ujar Adel, warga Gaza City, dikutip dari Reuters.
Kondisi di lapangan semakin buruk karena kelaparan masih melanda sebagian besar wilayah. Banyak warga harus mempertaruhkan nyawa demi mendapat sekarung tepung. “Siapa yang tidak mati karena bom, bisa mati karena lapar,” lanjut Adel.
Israel kini menyalurkan sebagian besar bantuan ke Gaza melalui lembaga baru bernama Gaza Humanitarian Foundation, yang mendapat dukungan dari AS dan Israel. Bantuan dikawal oleh perusahaan keamanan swasta dan disalurkan melalui titik-titik tertentu yang dijaga oleh militer Israel.
Pimpinan Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, menyebut sistem distribusi bantuan yang berjalan saat ini sebagai “aib dan noda bagi hati nurani kolektif dunia," lewat pernyataannya di media sosial X.
Perang di Gaza bermula sejak Oktober 2023, ketika kelompok militan Hamas menyerang Israel dan menewaskan sekitar 1.200 orang serta menyandera sekitar 250 lainnya. Sebagai balasan, Israel melancarkan serangan besar-besaran yang hingga kini telah menewaskan hampir 55.600 warga Palestina, menggusur mayoritas penduduk, dan menyebabkan krisis kemanusiaan yang semakin parah.
“Kami mungkin senang melihat Israel diserang balik oleh Iran, tapi satu hari tambahan dari perang ini berarti puluhan warga Gaza kehilangan nyawa,” kata Shaban Abed, warga Gaza utara dan ayah lima anak.
"Yang kami harapkan hanyalah solusi menyeluruh agar perang ini benar-benar berakhir. Kami merasa dilupakan," ungkapnya. (Ihy)