Sorottajam.com - Masyarakat Kota Tangerang Selatan (Tangsel) masih menyimpan kenangan pahit pada saat melakukan turing, yaitu kecelakaan yang rata-rata diakibatkan karena faktor teknis kendaraan bus.
Sudah 3 kali masyarakat Kota Tangsel dihebohkan dengan kasus kecelakaan pada saat turing.
Ketiga kasus tersebut diantaranya kecelakaan maut di tanjakan emen 2018 lalu yang menelan puluhan warga Pisangan Ciputat Timur meninggal dunia, kecelakaan peziarah asal Serpong Utara di Guci Tegal pada tahun 2023 lalu, dan belum lama peziarah asal Pondok Aren di kilometer 179 tol Cipali.
Semua kecelakaan tersebut disebabkan karena faktor teknis kendaraan bus, dan bukan human error.
Terbaru, kecelakaan bus terjadi di Subang, Jawa Barat yang menewaskan 11 siswa SMK Lingga Kencana, Depok yang hendak melaksanakan studi tur.
Meskipun kecelakaan terakhir ini bukan menimpa warga Tangsel, faktor penyebabnya sama, yaitu sistem pengereman tidak berfungsi atau rem blong. Dengan kata lain, penyebabnya adalah faktor teknis kendaraan.
Atas pengalaman-pengalaman pahit tersebut, Walikota Tangsel, Benyamin Davnie secara tegas akan mencabut izin Perusahaan Otobus yang masa berlaku Uji KIRnya habis namun masih beroperasi.
"Kami dari Petugas Perhubungan yang bekerjasama dengan Polres Tangsel akan melakukan operasi secara acak di Jalan dan juga di beberapa PO bus. Apabila ditemui ada yang kedapatan masih beroperasi sementara uji KIRnya habis maka akan ditindak," ujar Benyamin, Selasa (14/5/2024).
Penindakan tersebut, kata Benyamin, berupa penilangan, dan tidak bisa beroperasi sebelum pengujian kendaraan bermotornya berlaku dan sudah laik jalan.
"Hal ini dilakukan guna memangkas insiden kecelakaan yang diakibatkan oleh faktor teknis kendaraan maupun human error atau kelalaian pengemudi," katanya.
Terkait kecelakaan bus sekolah asal Depok, Benyamin menginstruksikan kepada dinas pendidikan dan kebudayaan, Lurah dan Camat se Kota Tangsel, untuk melakukan evaluasi total kepada seluruh pihak sekolah agar menunda terlebih dahulu rencana studi tur siswa ke luar daerah di masa kelulusan sekolah.
Tujuannya, kata Benyamin, untuk mengantisipasi kejadian yang menimpa siswa SMK Lingga Kencana Depok.
“Saya prihatin dan berduka cita atas insiden itu. Lebih baik ditunda dulu deh ya, kita utamakan sisi keselamatan siswa dulu,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan studi tur ke luar daerah bisa digantikan dengan kegiatan edukasi yang dapat memberikan manfaat dan ilmu kepada siswa di internal lingkungan sekolah.
“Kan masih bisa dilaksanakan di lingkungan sekolah, gelar even seni tari, musik atau even positif lainnya,” pungkasnya. (Ihy)