Sorottajam.com - Di dunia musik ekstrem, hanya sedikit album yang memiliki sejarah sekelam Dawn of the Black Hearts, rilisan bootleg dari band black metal legendaris Mayhem.
Dirilis pada 1995 oleh mantan gitaris band, Øystein "Euronymous" Aarseth, album ini menjadi kontroversial karena sampulnya yang mengerikan—foto asli dari vokalis Per "Dead" Ohlin setelah bunuh diri pada 1991.
Sejarah Kelam di Balik Album
Mayhem dikenal sebagai pionir black metal Norwegia, namun juga memiliki sejarah yang dipenuhi tragedi dan skandal. Pada 8 April 1991, Per Ohlin ditemukan tewas di sebuah rumah di Kråkstad, Norwegia, akibat luka tembak di kepala dan sayatan di pergelangan tangannya.
Euronymous, yang menemukan jasadnya, bukannya segera menghubungi polisi, justru mengambil foto tubuh Ohlin, yang kemudian beredar luas di kalangan underground sebelum akhirnya digunakan sebagai sampul Dawn of the Black Hearts.
Perilisan dan Dampak Kontroversial
Album ini bukan rilis resmi Mayhem, melainkan bootleg yang dikeluarkan oleh label kecil milik Euronymous, Deathlike Silence Productions. Album ini berisi rekaman live Mayhem dari 1990 di Sarpsborg, Norwegia, dengan kualitas suara mentah yang mencerminkan atmosfer gelap khas black metal saat itu.
Namun, bukan musiknya yang membuat album ini legendaris, melainkan sampulnya yang mengundang kecaman dan perdebatan etis di dunia musik.
Banyak penggemar dan musisi metal menganggap penggunaan foto tersebut sebagai tindakan tidak beretika dan eksploitasi kematian seseorang.
Namun, bagi sebagian kalangan dalam skena black metal, album ini dianggap sebagai bentuk ekstrem dari filosofi "true black metal" yang mengusung nihilisme dan kebrutalan tanpa kompromi.
Warisan dan Kontroversi yang Terus Berlanjut
Lebih dari dua dekade setelah perilisannya, Dawn of the Black Hearts tetap menjadi salah satu album paling langka dan dicari oleh kolektor, meskipun banyak negara melarang penjualannya.
Sampulnya terus menjadi simbol kontroversi dalam dunia musik ekstrem, sementara Mayhem sendiri telah berkembang jauh sejak era kelam tersebut, merilis album baru dan melakukan tur di seluruh dunia.
Meski begitu, album ini tetap menjadi pengingat akan sejarah gelap black metal Norwegia—era di mana musik, kekerasan, dan ideologi ekstrem bercampur dalam kisah yang masih dibicarakan hingga hari ini. (Ihy)