Sorottajam.com - Banyak orang mengalami kesulitan tidur meskipun tubuh terasa lelah dan mata mengantuk. Bahkan, ketika memaksa diri untuk tidur, hasilnya justru tidur menjadi tidak nyenyak. Apa yang sebenarnya terjadi?
Menurut pakar kesehatan tidur, fenomena ini dikenal sebagai paradoxical insomnia atau insomnia paradoks, di mana seseorang merasa tidak bisa tidur padahal secara objektif tubuhnya sudah beristirahat.
Namun, akar masalah sering kali bukan hanya fisik, melainkan juga psikologis dan kebiasaan sehari-hari.
“Stres, kecemasan, dan kebiasaan menggunakan gadget sebelum tidur adalah penyebab utama gangguan tidur di era digital saat ini,” ujar dr. Nadia Wulandari, Sp.S, dokter spesialis saraf yang juga meneliti gangguan tidur di RSUP Fatmawati.
Baca Juga: Posisi Tidur Miring Efektif Kurangi Dengkuran
Tubuh manusia memiliki ritme sirkadian, yaitu jam biologis yang mengatur kapan tubuh seharusnya terjaga dan kapan harus tidur.
Ritme ini sangat sensitif terhadap cahaya, terutama cahaya biru dari layar gawai. Ketika seseorang bermain ponsel hingga larut malam, produksi hormon melatonin, yaitu hormon pemicu rasa kantuk akan terganggu.
“Kalau melatonin tidak diproduksi optimal, otak tidak menerima sinyal bahwa ini saatnya tidur, meskipun tubuh merasa lelah,” jelas dr. Nadia.
Salah satu kesalahan umum yang dilakukan adalah memaksakan diri untuk tidur. Ketika seseorang memaksa tidur, otak malah menjadi lebih aktif dan cemas karena merasa gagal tidur. Hal ini memperburuk ketegangan dan menghambat proses tidur alami.
Para ahli menyarankan pendekatan kombinasi antara perubahan gaya hidup dan teknik relaksasi. Berikut beberapa langkah yang direkomendasikan:
Baca Juga: Bayi Sering Menangis Saat Tidur, Ini Penyebab Umumnya
Jika gangguan tidur berlangsung lebih dari sebulan dan mengganggu aktivitas harian, disarankan untuk berkonsultasi ke dokter spesialis saraf atau psikiater untuk penanganan lebih lanjut. (Ihy)